Video Pelakor Viral di Medsos, Bagaimana Islam Menyikapinya?

Video Pelakor Viral di Medsos, Bagaimana Islam Menyikapinya?

Lagi rame ibu-ibu di FB (dan ada juga bapak-bapak) yang membahas tentang pelakor. Rata-rata menilai perempuan pelakor (singkatan dari: perebut laki orang), dengan penilaian negatif.

Di status ini, saya hanya ingin menulis singkat tentang hal ini.

1. Sebelum kita menilai sesuatu, kita perlu perjelas dulu gambaran sesuatu yang kita ingin nilai tersebut. Saya lihat banyak yang ikut-ikutan membahas pelakor, tanpa menjelaskan gambarannya, bahkan dari komentar-komentar yang ada, terlihat kesimpangsiuran.

2. Istilah pelakor, yang katanya mulai marak saat ada kasus dugaan perselingkuhan artis (baca di sini: https://www.serbatahu.com/arti/gaul/pelakor), ini faktanya memang belum punya definisi khusus. Banyak perbedaan dalam memahami istilah ini. Karena itu, saya akan menjelaskan rinciannya.

3. Boleh kita katakan, fakta yang disebut warganet sebagai pelakor itu ada beberapa kemungkinan:

(a) Perempuan yang berselingkuh dengan suami orang. Selingkuh di sini, yang paling ringan mungkin pacaran dan berkhalwat, tanpa lebih dari itu. Yang paling berat, berzina. Dan hubungan mereka hanya selingkuh, tak melewati itu (tak sampai menikah).

(b) Perempuan yang awalnya pacaran dengan suami orang, kemudian lambat laun berlanjut ke pernikahan. Entah nikah resmi tercatat di negara, atau nikah bawah tangan.

(c) Perempuan yang benar-benar menjadi istri kedua dari seorang laki-laki, melalui pernikahan yang sah.

Tiga gambaran di atas, dalam kacamata Islam harus dinilai secara berbeda.

Gambaran (a) jelas haram. Zina maupun hal-hal yang mengantarkannya, haram hukumnya. Baik yang melakukannya seorang laki-laki yang telah punya istri, maupun yang masih jomblo. Bedanya hanya di had-nya, antara pezina muhshan dan ghairu muhshan.

Yang haram begini, harus dilakukan nahi munkar.

Gambaran (b) sebenarnya mirip fenomena pacaran para remaja. Awalnya haram, namun ketika berlanjut ke jenjang pernikahan, hukumnya berubah jadi halal.

Gambaran (c), ini halal sepenuhnya.

Pelakor dalam Islam
sipayo.com

4. Prinsip Syariah yang harus dipegang oleh siapapun, ta’addud zawjaat (mengumpulkan lebih dari satu istri) itu boleh hukumnya. Tak layak para perempuan menentang kebolehan ini.

Sedangkan urusan perasaan, serta penilaian kepantasan suaminya berpoligami, itu pembahasan berikutnya. Tak boleh tercampur dan tumpang tindih.

5. Jika ada perempuan yang menikah dengan seorang laki-laki yang sudah beristri, selama caranya sesuai Syariah, terpenuhi rukun nikah dan syaratnya, maka nikahnya sah. Dan haram menggelarinya dengan gelar-gelar buruk, atau menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar.

6. Yang lebih maslahat, pernikahan harus tercatat di negara. Nikah bawah tangan, sah secara fiqih, namun akan banyak melahirkan konsekuensi yang bisa jadi merugikan istri dan anak yang lahir dari pernikahan bawah tangan.

7. Untuk laki-laki yang mau poligami, yang patut ditanyakan pertama, bukan “Apakah kamu bisa adil?”, tapi, “Memangnya berapa penghasilanmu perbulan?”. Orang miskin, menafkahi satu istri saja sudah sulit, berani-beraninya berpikir untuk menambah istri!

Muhammad Abduh Negara

Leave a Comment