Fatwa Ibnu Taimiyah Tentang Bolehnya Bekerjasama dengan Jin

Fatwa Ibnu Taimiyah Tentang Bolehnya Bekerjasama dengan Jin

Setelah berita celengan yang isinya raib diambil tuyul menjadi viral, banyak orang yang kemudian mencari informasi tentang dunia jin. Ada yang sekadar penasaran, ada yang ingin tahu cara menangkalnya, namun ada juga yang ingin mencari tahu cara memelihara tuyul. Naudzubillahi min dzalik.

Padahal dalam Islam, bekerjasama dengan jin untuk mencuri seperti yang dikerjakan tuyul, adalah perbuatan haram. Para ulama sepakat tentang kerjasama dengan jin dalam hal yang diharamkan Allah adalah haram. Lalu bagaimana dengan kerjasama dalam hal yang mubah? Tentang hal ini, ternyata terjadi perbedaan pendapat.

Pendapat yang Mengharamkan

Dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhut Wal Ifta’, yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz dan beranggotakan salah satunya adalah Syaikh Shalih Al Fauzan, dijelaskan bahwa:

Tidak boleh seorang Muslim meminta bantuan jin untuk tujuan apapun. Karena mereka tidak memberi bantuan kecuali manusia menaati para jin dalam berbuat maksiat kepada Allah dan berbuat kesyirikan atau kekufuran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al Jin: 6).

dan firman Allah Ta’ala:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ

“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (manusia dan jin), (dan Allah berfirman) : “Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,” lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia : “Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami (manusia) telah mendapat kesenangan dari sebagian yang lain (jin) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman : “Neraka itulah tempat tinggal kamu semua, sedang kamu semua kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)” (QS. Shad: 55).

Dan mengambil upah dari perbuatan ini hukumnya haram. Penyakit yang disebabkan jin atau penyakit lainnya diobati dengan Al Qur’an atau pengobatan yang syar’i atau pengobatan yang mubah, melalui orang yang terpercaya yang memiliki aqidah yang lurus.

viva.co.id

Pendapat yang Membolehkan

Sebenarnya tidak mutlak membolehkan. Pendapat ini adalah fatwa Ibnu Taimiyah yang sering dijuluki sebagai Syaikhul Islam karena keluasan ilmunya. Dalam menyikapi kerjasama atau interaksi antara manusia dengan jin, Ibnu Taimiyah membaginya menjadi 3, sebagaimana tertuang dalam kitab Majmu’ al Fatawa sebagai berikut:

1. Diharamkan

Bila manusia meminta bantuan kepada jin untuk perkara-perkara yang diharamkan, seperti : perbuatan keji, kezhaliman, syirik, mengatakan terhadap Allah tanpa ilmu. Terkadang mereka menganggap hal ini bagian dari karomah orang-orang shaleh padahal ia adalah bagian dari perbuatan-perbuatan setan.

2. Mubah (boleh)

Bila manusia meminta bantuan kepada jin di dalam perkara-perkara yang mubah (dibolehkan), seperti : menghadirkan hartanya yang hilang, atau menunjuki tempat yang di situ terdapat harta yang tak bertuan, atau melindungi dari orang-orang yang hendak menyakitinya, atau sejenisnya. Dalam hal ini berlaku hukum seperti permintaan bantuan seorang manusia kepada manusia lainnya.

3. Dakwah kepada jin

Manusia menyuruh jin untuk melakukan apa yang Allah dan rasul-Nya perintahkan, seperti beribadah kepada Allah semata, atau menaati Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebaliknya, jin menyuruh manusia untuk melakukan yang sama, maka jin dan manusia ini termasuk wali Allah yang mulia, di samping itu, dia merupakan penerus dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Umar bin Khattab radhiyallahu anhu tatkala menyeru pasukannya,”Wahai Pasukan bukit” seraya berkata,”Sesungguhnya Allah memiliki tentara-tentara yang akan menyampaikan suaraku dan tentara-tentara Allah adalah dari kalangan malaikat, jin-jin yang shaleh.” Maka tentara-tentara Allah telah menyampaikan suara Umar didengar oleh pasukan tersebut, yaitu mereka menyerunya seperti suara Umar. Jika tidak maka suara Umar sendiri tentunya tidak akan sampai kepada mereka dikarenakan jauhnya jarak diantara mereka. (Daqoiq at Tafsir juz II hal 138 – 139)

Kesimpulan

Kesimpulannya adalah, meminta bantuan atau bekerja sama dengan jin bukanlah sesuatu yang haram secara mutlak. Karena jin termasuk makhluk Allah yang mendapatkan beban aturan syariat sebagaimana manusia. Hubungan manusia dengan jin tidak lebih dari muamalah dua jenis makhluk Allah Ta’ala.

Sebagaimana aturan yang berlaku ketika manusia bekerja sama dengan manusia lainnya. Kerja sama itu boleh dilakukan, selama dilakukan dengan cara yang mubah dan untuk tujuan yang mubah. Sebaliknya, kerja sama ini bernilai dosa dan terlarang, jika dilakukan dengan cara terlarang atau untuk tujuan terlarang.

Walau begitu yang terbaik dan lebih aman adalah tidak meminta bantuan kepada jin, berdialog dengannya atau bergantung kepadanya, karena hal itu dapat berisiko membawa manusia kepada kerusakan dan kesesatan. Karena jin tak kasat mata, manusia sulit mengetahui apakah mereka sedang berbohong atau tidak. Hal tersebut dapat menjerumuskan pada kesesatan tanpa disadari.

Wallahu a’lam bishshawab.

Leave a Comment